ASA YANG MEMBUNCAH
Kerisik lontar samping kiri jalan memberi kesan betapa eloknya putaran roda pedati ini.
Membayangi asa sang kusir pedati tua yang termanggu dipersimpang jalan.
Dikejauhan lantunan kidung cinta mengalun sendu menyusur sukma ini.
Sementara asa itu masih membayangi makna suci arti hadirnya sukma yang berkelindan.
Pak Kusir, akankah kau terus berdiri disimpang jalan ini?
Ataukah lurus jalan sampai kau menemukan hamparan padi yang bernas?
Pak Kusir, dengarkan aku ;
Basudewa berkata kepada pandawa bahwa seyogyanya bangau-bangau itu akan terus mencucukkan paruhnya ke lumpur demi cacing-cacing kecil yang sambung kelangsungan hidup keluarganya. Begitu juga kau Pak Kusir. Genggan asa sampai meragasukma dalam anganmu.
Roda pedati menggelinding pelan, tandanya ada pergerakan menjauh dari simpang jalan.
Begitulah kodrati pedati tua. Berjuang atau terdiam dipersimpangan jalan.
