Powered By Blogger

Selasa, 09 Februari 2021

CERITA PENDEK : DAUN JATI

DAUN JATI

Sore ini tanah yang basah disela rerumputan membuat alas kaki Rajna sedikit berlumpur, licin dan kotor namun ia tetap melanjutkan langkah nya menuju ke gubuk tengah sawah. Daun oyong berjejer rapi di samping kanan kiri jalan, sedangkan dikejauhan sayup terdengar suara burung prenjak begitu gigih belajar bunyi yang senada dengan suasana jingga sore itu. Pohon tebu tegak lurus elok seakan memberi kesan bahwa keindahan adalah milik alam semesta.  “Sebentar lagi aku sampai” kata rajna penuh optimis. Sepanjang pematang sawah yang ia lalui berderet rapi sepeda tua petani yang dibiarkan teronggok bersandar pada tepi “galengan” sawah.  Begitu indahnya lukisan alam karya Tuhan pelindung manusia.
Seperempat jam lebih Rajna menunggu Mas Pur di gubuk bambu yang beratap daun waluh. Mas Pur adalah teman karib Rajna sejak dulu. Mereka kerap membahas teori-teori Ketuhanan bersama di padepokan SWS pojok desa. Namun kali ini Rajna mengajak Mas Pur untuk berdiskusi di gubuk tengah sawah yang punya daya magis kuat dan berudara segar. Dibuka lagi HP nya dan benar juga ada notifikasi pesan online memberitahu bahwa Mas Pur sudah dekat dengan jalan setapak menuju gubuk tengah sawah. Bergegas Rajna mengambil perkakas yang sengaja ia bawa untuk menjamu Mas Pur. Tangan kanan menuang air teh hangat di poci ke cangkir yang berisi gula batu. Diaduk dan seketika tercium aroma melati khas teh tubruk racikan sendiri. 
Datang dari tadi ya? Ooh engga Mas, ya sekitar lima menitan saya menunggu sempeyan disini. Monggo-monggpo duduk Mas, ini sudah saya seduh racikan Teh tubruk kesukaan sampeyan. Waaah sampun repot-repot toh Na, aku yo teka mene kuwi wis seneng por.. lawas ra ndelok sawah meneh. Ooya Na, piye kabarmu?    Kabarku baik-baik saja Mas. Mas Pur gimana kabar?  Kabarku apik sehat waras bregas heheehee..    Mereka menikmati sajian sederhana khas desa dengan begitu gembira, saling tanya kabar masing-masing dan sesekali  memandang kearah hamparan sawah hijau jagung yang mulai berbunga. 
Mas Pur, saya masih bingung dengan ucapan Guru saya kemarin malam. Saat itu saya sedang lungguh di teras padepokan lalu Guru menepuk pundakku bilang begini “ Na, coba kamu makan pakai bungkus daun jati. Bedakan rasanya antara makan dipiring dengan didaun jati enak mana? Langsung saya jawab ya enak di daun jati Guru. Lalu Guru saya bilang lagi “ Begitulah nikmat rasa ibadah kalau kamu sudah bisa menemukan daun jati yang sesungguhnya. Menurut sampeyan artinya apa?
Mas Pur diam sejenak, hening menyeruak suasana. Sambil menyeruput wedhang Mas Pur mulai membedah sabda-sabda yang tadi diceritakan oleh Rajna. Ngene Na tak warai, godhong jati iku sejatine mung simbol nek kowe kudu nduweni sifat becik jembar atine lan bisa maknai tiap-tiap ritual kanti makna kang paling njero. Wit jati wiwit jaman mbiyen kwi dipercoyo nduweni kayu kang atos, ora gampang dipangan rayap, ora gampang rusak lan iso tahan ning musim ketigo.  Nek menungso wis ngarti elmu jati kuwi pasti uripe bakal ayem tentrem Na.  Oh begitu ya Mas. Lah terus saya harus mencari kemana itu daun jati?  “Ra sah luruh adoh-adoh amergo sejatine godhong jati sak wite ana ning awakmu dhewe, ning jroning ati kang pasrah lan nrimo ing pandhum.” Ujar Mas Pur.
Setelah mendapat jawaban seperti itu Rajna pun hanya mengernyitkan dahi saja. Entah paham atau tidak, dibenaknya yang ada hanya prinsip patuh pada wejangan Guru. 

22/2/21

*PELOK* esuk-esuk Melak melok Nganggo rok Awake montok Pan mendi yu? Ayu nemen sung! Ehh kie kang, luruh duit go tuku sega.  Ya wis mana.! K...